Pak suto bukan seorang muslim, ia eorang kristen yang taat.
Namun ia punya anak asuh seorang muslim. Di angakatnya si anak itu karena
keluarganya kurang mampu dan disekolahkannya dari SMP hingga SMA. Tidak hanya
sampai disitu, setelah anak itu lulus MSA. Pak suto juga mencarikan pekerjaan .
saat anak itu menikah,dia membuatkan resepsi pernikahan yang meriah. Setelah
anak itu asuhnya tinggal dirumah suaminya.
Soal keyakinan tetap menjadi urusan masing –masing si anak
tetap shalat, sementara pak suto ke
gereja. Saat idul Fitri si itu pulang kerumah orang tuanya merayakanya disana. Sementara saat natal si
anak membantu pak suto, mulai dari menyiapkan makanan sampai membersihkan
rumah.
Cerita ini memang benar-benar terjadi. Saya dekat dengan pak
suto dan anak asuhnya itu. Pak suto tinggal , disungai durian kecamatan
kabupaten mempawah. Kini si anak asuh itu sudah punya anak dan sudah punya
suami pegawai negeri.ia masih tetap menjalankan shalat.
Walau bukan seagama, namun pak suto mampu sekat-sekat yang
sebagian orang menjadi tembok pemisah yang begitu tebal untuk saling menolong.
Dalam hati saya masih menggumam, inilah yang di sebut toleransi.
Ada contoh lagi yang cukup menarik sebagai perbandingan,
pada natal tahun lalu, di jakarta dan di beberapa daerah lain kita mendengar
bahwa ormas-ormas islam turut mrngamankan perayaan natal. Misalnya saja seperti
yang di lakukan banser nahdatul ulama (NU) yang menggerahkan anggotanya , turut
menjaga beberapa gereja mengamankan perayaan natal.
Dua contoh di atas sungguh hal yang sangat menyejukan. Sejuk , karena dalam
beberapa tahun kita selalu mendengar kabar buruk: tentang bom bunuh diri.bom
natal, pembakaran gereja, pembunuhan orang-orang karena agama, dan sebaganya
kerukunan umat beragama tercoreng dan ini menjadi trauma bagi kita semua .
Apa yang di lakukan pak suto dan banser NU menjadi sebuah
contoh yang mampu mengajarkan kita bahwa damai dan kasih sayang itu begitu
menyejukan. mereka bisa memaknai apa itu toleransi. Toleransi memang tidak cukup
hanya d ucapakan saja , juga tidak cukup hanya menjadi wacana. Namun toleransi
membutuhkan perbuatan,juga ketulusan.
Tolerans menjadi kata yang sungguh bersahabat untuk
didengar. Bersahabat, karena kata ini bila diwujudkan dalam kehidupan
keharmonisan dengan beragam agama akan menciptakan keharmonisan dan perdamaian.
Da bersahabat pula bila kata itu membuat kami. Tidak saling memusuhi apalagi
membunuh, tiak pula membuat kita merasa menjadi yang paling benar dan menggap
yang lain itu perlu di musnahkan. Kita membutuhkan kata-kata yang bisa membawa
sejuk sekalian damai yang menyeruak dalam kehidupan kita.
Sudah lama kata inin hilang. Sudah lama pula kata ini hanya
ada di kamus bahkan jadi pelajaran pendidikan pancasila belaka. Namun mengupa
kata ini bersinggungan kehidupan masyarakat. Kita sering tidak toleran ketika
menghadapi perbedaan. Kita tidak bisa
melihat ada sesuatu yang berbeda dari komunitas atau berbeda dengan ideologi
yang kita anut.
Bagaiman konflik, pertumpahan darah sering terjadi karena
masalah perbedaan ini. Kekerasan demikian pula sering menjad jadi, karena tak
ada yang mau mengalah, dan masing-masing teguh bahwa kelompokna paling benar.
Ada sang liyan (the other) yang kita anggap sebagai orang
yang perlu di musuhi. Sang liyan itu pula yang mesti kita jadikan pesaing
utama, dan kemudian yang kita bicarakan adalah soal menang kalah. Kita selalu
bersaing memperebutkan jumlah umat. Fanatisme sempit juga telah membuat kita
semakin buta akan mana yang substanssif dan mana yang artisial (hanya di kulit
luarnya) kita juga sering sempit dalam memandang persoalan yang ada dalam
lingkungan kita.
Kita sering melihat bahwa suatu kelompok yang dominan tidak
toleran kepada kelompok yang lebih kecil. Di indonesia? Kita juga sering
menyaksikan. dalam berbagai situasi ada
saja kelompok –kelompok terntu yang ingin memaksakan kehendak , paham, dan
klaim kebenaran mereka pada kelompok lain.
Kini kita dapatkan pembelajaran dari dua contoh tadi. Dengan
sebuah keyakinan bahwa rasa damai akan lebih nyaman dari rasa gusar,
persahabatan akan lebih baik dari permusuhan, dan iklas akan lebih baik dari
dendam. Ttoh surga masih tetap akan ada. Sementara keyakinan ini bila tidak
diasah dengan jiwa yang penuh kesejukan akan menjadi gersang, dan tentu akan
membuat kita jauh dari surga.
Kta mestinya bisa saling berdampingan, dan itu bisa terwujud
bila keegoan masing-masing sedikit di tekan. Bukankah kita bisa menjaga agar
perbedaan itu sebagai rahmat, dan bukan sebaliknya sebagai penghancur?
heriyanto
