085653535++ ridwanname@gmail.com

Jumat, 14 Maret 2014

merindukan toleransi

06.17

Share it Please
Pak suto bukan seorang muslim, ia eorang kristen yang taat. Namun ia punya anak asuh seorang muslim. Di angakatnya si anak itu karena keluarganya kurang mampu dan disekolahkannya dari SMP hingga SMA. Tidak hanya sampai disitu, setelah anak itu lulus MSA. Pak suto juga mencarikan pekerjaan . saat anak itu menikah,dia membuatkan resepsi pernikahan yang meriah. Setelah anak itu  asuhnya  tinggal dirumah suaminya.
Soal keyakinan tetap menjadi urusan masing –masing si anak tetap shalat, sementara  pak suto ke gereja. Saat idul Fitri si itu pulang kerumah orang tuanya  merayakanya disana. Sementara saat natal si anak membantu pak suto, mulai dari menyiapkan makanan sampai membersihkan rumah.
Cerita ini memang benar-benar terjadi. Saya dekat dengan pak suto dan anak asuhnya itu. Pak suto tinggal , disungai durian kecamatan kabupaten mempawah. Kini si anak asuh itu sudah punya anak dan sudah punya suami pegawai negeri.ia masih tetap menjalankan shalat.
Walau bukan seagama, namun pak suto mampu sekat-sekat yang sebagian orang menjadi tembok pemisah yang begitu tebal untuk saling menolong. Dalam hati saya masih menggumam, inilah yang di sebut toleransi.
Ada contoh lagi yang cukup menarik sebagai perbandingan, pada natal tahun lalu, di jakarta dan di beberapa daerah lain kita mendengar bahwa ormas-ormas islam turut mrngamankan perayaan natal. Misalnya saja seperti yang di lakukan banser nahdatul ulama (NU) yang menggerahkan anggotanya , turut menjaga beberapa gereja mengamankan perayaan natal.
Dua contoh di atas sungguh hal  yang sangat menyejukan. Sejuk , karena dalam beberapa tahun kita selalu mendengar kabar buruk: tentang bom bunuh diri.bom natal, pembakaran gereja, pembunuhan orang-orang karena agama, dan sebaganya kerukunan umat beragama tercoreng dan ini menjadi trauma bagi kita semua .
Apa yang di lakukan pak suto dan banser NU menjadi sebuah contoh yang mampu mengajarkan kita bahwa damai dan kasih sayang itu begitu menyejukan. mereka bisa memaknai apa itu toleransi. Toleransi memang tidak cukup hanya d ucapakan saja , juga tidak cukup hanya menjadi wacana. Namun toleransi membutuhkan perbuatan,juga ketulusan.
Tolerans menjadi kata yang sungguh bersahabat untuk didengar. Bersahabat, karena kata ini bila diwujudkan dalam kehidupan keharmonisan dengan beragam agama akan menciptakan keharmonisan dan perdamaian. Da bersahabat pula bila kata itu membuat kami. Tidak saling memusuhi apalagi membunuh, tiak pula membuat kita merasa menjadi yang paling benar dan menggap yang lain itu perlu di musnahkan. Kita membutuhkan kata-kata yang bisa membawa sejuk sekalian damai yang menyeruak dalam kehidupan kita.
Sudah lama kata inin hilang. Sudah lama pula kata ini hanya ada di kamus bahkan jadi pelajaran pendidikan pancasila belaka. Namun mengupa kata ini bersinggungan kehidupan masyarakat. Kita sering tidak toleran ketika menghadapi perbedaan.  Kita tidak bisa melihat ada sesuatu yang berbeda dari komunitas atau berbeda dengan ideologi yang kita anut.
Bagaiman konflik, pertumpahan darah sering terjadi karena masalah perbedaan ini. Kekerasan demikian pula sering menjad jadi, karena tak ada yang mau mengalah, dan masing-masing teguh bahwa kelompokna paling benar.
Ada sang liyan (the other) yang kita anggap sebagai orang yang perlu di musuhi. Sang liyan itu pula yang mesti kita jadikan pesaing utama, dan kemudian yang kita bicarakan adalah soal menang kalah. Kita selalu bersaing memperebutkan jumlah umat. Fanatisme sempit juga telah membuat kita semakin buta akan mana yang substanssif dan mana yang artisial (hanya di kulit luarnya) kita juga sering sempit dalam memandang persoalan yang ada dalam lingkungan kita.
Kita sering melihat bahwa suatu kelompok yang dominan tidak toleran kepada kelompok yang lebih kecil. Di indonesia? Kita juga sering menyaksikan. dalam berbagai  situasi ada saja kelompok –kelompok terntu yang ingin memaksakan kehendak , paham, dan klaim kebenaran mereka pada kelompok lain.
Kini kita dapatkan pembelajaran dari dua contoh tadi. Dengan sebuah keyakinan bahwa rasa damai akan lebih nyaman dari rasa gusar, persahabatan akan lebih baik dari permusuhan, dan iklas akan lebih baik dari dendam. Ttoh surga masih tetap akan ada. Sementara keyakinan ini bila tidak diasah dengan jiwa yang penuh kesejukan akan menjadi gersang, dan tentu akan membuat kita jauh dari surga.
Kta mestinya bisa saling berdampingan, dan itu bisa terwujud bila keegoan masing-masing sedikit di tekan. Bukankah kita bisa menjaga agar perbedaan itu sebagai rahmat, dan bukan sebaliknya sebagai penghancur?

heriyanto 
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar